Selasa, 23 Juni 2015

Mendarat di Cina Daratan

HELM sebagai pelindung kepala saat berkendara dengan sepeda motor wajib dipakai jika berada di teritori Indonesia. Setuju, tidak usah diperdebatkan lagi. Untuk keselamatan si pengendara sendiri apabila dirinya kecelakaan, paling tidak kepala -yang ada organ penting di dalamnya berupa otak- bisa diminimalisir resikonya. Tapi kenapa pengendara yang tidak menggunakan helm sering ditilang polisi? Padahal kan fungsi helm sudah jelas untuk melindungi kepala, jika tidak mau memakai helm, silahkan tanggung resikonya jika terjadi kecelakaan. Tidak usah pula ditilang.


Beberapa kali saya melihat pengendara sepeda motor -bukan di Indonesia- tanpa menggunakan helm. Kemudian saya bertanya kepada penduduk setempat, apakah itu tidak bahaya dan bisa ditilang polisi. Tahukah kawan apa jawaban penduduk setempat? Mereka mengatakan bahwa pengendara motor disini sudah tahu resikonya, bahwa berkendara tanpa helm sangat mengundang bahaya jika terjadi kecelakaan. Tapi polisi tidak pernah menilang perkara si pengendara tidak memakai helm. Mereka berujar kalau itu adalah kebodohan pengendara sendiri jika mereka membahayakan dirinya. Lantas saya masih tidak mengerti kenapa di negara saya, Indonesia tercinta yang gemah ripah loh jinawi, apabila pengendara motor tidak mengenakan helm harus ditilang. Jangan bilang karena ada Undang-Undangnya. Alasan seperti itu sudah basi, laksana mading yang siap terbit.



Salah satunya adalah perempatan di Bao’an District Shenzen, sibuk layaknya sebuah perempatan kota besar. Tak satupun pengendara sepeda motor disini yang menggunakan helm. Jika mereka berkendara seperti itu di Jakarta, pasti sudah kena tilang. Pengadilan pun akan penuh karena orang akan berbondong-bondong mengantri agar surat izin mengemudinya dikembalikan. Selain itu para calo persidangan juga akan panen raya, karena berhasil menghasut pelanggar lalu lintas untuk dibantu proses persidangan. Padahal di depan ruang sidang terpampang spanduk jelas dan besar bertuliskan JANGAN GUNAKAN CALO. Entah kenapa para pelanggar dan calo itu akur saja, andaikan saya jadi pak hakim, niscaya palu persidangan sudah bertengger di kepala calo-calo itu. Sungguh memalukan.

###

Sebelum tiba di Bao’an District, saya terdampar di Lo Wu border. Menumpang MTR dari Hong Kong hingga keluar di Lo Wu. Sistem perbatasan yang praktis antara Hong Kong dan China daratan. Kawan, janganlah bodoh seperti saya yang sering kikuk berada di perbatasan antar negara. Padahal tinggal jalan lurus ke depan untuk mengantri imigrasi, tapi masih saja saya melakukan stop beberapa kali demi bertanya arah menuju meja imigrasi dan loket penerbitan visa.




Jika kawan berkeinginan mengunjungi Daratan Cina melalui Hong Kong, bisa melalui dua perbatasan antara Hong Kong dan Shenzen. Perbatasan itu adalah Lo Wu dan Lok Ma Chau. Kedua perbatasan terhubung dengan jalur MTR dari stasiun Sheung Shui. Khusus untuk stasiun perbatasan antar negara, tarif MTR yang dipatok lebih mahal daripada stasiun-stasiun lainnya. Berdasarkan informasi dari internet, imigrasi di stasiun Lo Wu buka pelayanan lebih lama daripada di Lok Ma Chau.

Pemegang paspor Indonesia masih harus memperoleh Visa jika ingin mengunjungi Daratan Cina. Tapi mudah saja, cukup bayar 168CNY untuk Visa on Arrival, nanti diizinkan tinggal selama 5 hari, berlaku untuk sekali masuk dan keluar dari Shenzen. Supaya tidak kikuk seperti saya, begitu keluar dari tap out kartu MTR. Segera tukarkan kartu octopus jika masih ada saldo di dalamnya, lumayan depositnya juga dikembalikan. Sekali lagi tinggal jalan lurus saja, hingga tiba di antrian imigrasi Hong Kong. Setelah paspor diperiksa dan diperbolehkan keluar, lanjut lurus lagi melewati jembatan. Ikuti arah orang-orang yang berjalan, mereka semua menuju Shenzen.




Setelah melewati jembatan yang terdapat sungai pemisah antar negara dibawahnya, maka tibalah sudah di Shenzen. Harap diingat untuk memproses Visa dulu yang letaknya ada di lantai dua, sebelum loket imigrasi masuk ke Shenzen. Cara mendapatkan Visa juga sangat mudah. Tinggal isi formulir, ambil nomor antrian, nunggu dipanggil, bayar, selesai. Waktu itu sedang sepi, jadi prosesnya cukup 5 menit beres. Berbeda sekali ketika saya ingin masuk ke India, sejam lebih belum kelar demi mendapatkan VoA. Tak perlu bingung ketika harus mengisi alamat tinggal selama berada di Shenzen, kawan bisa googling terlebih dahulu salah satu alamat hotel yang ada di Shenzen. Tinggal copy paste ke lembar formulir. Dijamin lolos.

###

Juni 2014

Sore terakhir bersama dengan Geng Melanglang. Kami sepakat membebaskan sore dengan acara semaunya. Kami bebas pergi kemana saja dan harus sharing cerita pada pesta perpisahan yang akan digelar malam nanti di rooftop tempat kami menginap di Chiang Mai. Saya harus kembali ke penginapan sebelum jam malam, karena masa kudeta militer di Thailand masih berlangsung.

Tinggal satu tempat lagi yang belum saya kunjungi selama berada di Chiang Mai. Kuil Doi Suthep yang letaknya diatas puncak gunung. Dari peta jaraknya hanya 11km, tapi menanjak. Berbekal niat sotoy, saya sewa sepeda onthel dengan keranjang di depan stang. Tanpa tahu medan yang akan saya tempuh nanti seperti apa.

Kawan, kira-kira begini, Doi Suthep itu jika ada di Indonesia letaknya persis ada di restoran Rindu Alam di ujung Puncak. Untuk menuju kesana harus saya mulai dari perempatan lampu merah Ciawi. Dengan sepeda onthel, jangan lupa. Terbayang penderitaan saya akan seperti apa. Saya tidak terbayang, karena waktu itu saya masih udik.



Dua kilometer pertama, tanjakan masih sanggup saya taklukan. Walau betis sudah mulai kejang-kejang. Masuk kilometer ketiga rasanya hidup sudah mulai sekarat, lebih banyak berhenti daripada mengayuh. Tapi semangat ini laksana pejuang tahun empat-lima, terus berkobar. Menuju ke kilometer keempat, banyak pesepeda balap lainnya menaruh hormat seklaigus memberikan percikan semangat. Entah mereka berpikir apa, dianggapnya saya sedeng atau memang nekat bersepeda onthel menuju Doi Suthep.

Kilometer keempat selesai di paripurnakan. Saya ngaso sejenak ditepi air terjun, sambil menimbang-nimbang apakah akan terus menuju Doi Suthep atau kembali ke penginapan. Perhitungan waktu dan napas saya sudah mepet, apalagi jika terlambat pulang, nanti dikira anggota pemberontak dan bisa diringkus oleh militer Thailand. Bisa runyam.

Entah pikiran darimana, saya ikat sepeda onthel sewaan itu di pohon. Jika sampai hilang, saya akan kena denda ribuan baht. Setelah yakin aman, selanjutnya saya berdiri di pinggir jalan, mengacungkan jempol. Bermaksud mencoba metode hitchhike, Minta tebengan diangkut ke Doi Suthep. Tidak ada satupun mobil yang berhenti melihat jempol saya. Hingga ada dua motor yang menghampiri. Salah satu diantaranya menawarkan tebengan ke Doi Suthep. Saya senang bukan kepalang.



Pengemudi motor itu bernama Jason dan Zang, turis dari Shenzen yang sedang berlibur ke Thailand. Sore itu adalah sore terakhir mereka di Chiang Mai. Besok liburan usai, mereka akan kembali pulang ke China. Saya ikut membonceng di motor Jason, sementara Zang membuntuti di belakang. Bersama teman baru, Doi Suthep rasanya dekat saja.

###

Juni 2015
Shenzen

Jason tertawa terpingkal-pingkal begitu menerima telepon saya setelah setahun lamanya. Menurut Jason meminjam telepon seseorang di Shenzen untuk menghubungi orang lain adalah hal yang tidak lazim. Saya tidak punya pilihan. Setelah terdampar di perbatasan Lo Wu, hanya bahasa isyarat yang berperan. Hingga saya menemukan seseorang  yang bisa sedikit bahasa inggris dan mau meminjamkan teleponnya untuk digunakan menghubungi Jason. Selama di Shenzen, kembali saya nebeng Jason.



Mulai dari saat itu, jika kawan berpendapat bahwa rakyat Indonesia terlalu banyak jumlahnya sehingga susah diatur, atau luas wilayah Indonesia yang naujubileh kepisah-pisah laut sehingga membuat rakyat sulit diatur, maka kalian harus pergi ke Shenzen. Kita ambil contoh Jakarta yang konon jumlah manusia yang ada diatasnya berjumlah sekitar 12 juta jiwa. Kota tercanggih dan termodern yang ada di Republik Indonesia, tapi masih saja banyak orang brutal di dalamnya. Mulai dari belok tanpa lampu sein hingga pengendara motornya yang bangga kalau berhasil menerabas lampu merah. Tanpa menggunakan helm pula.



Semoga perbandingan saya bisa apple to apple antara Shenzen dan Jakarta. Secara luas wilayah kurang lebih sama dengan Jakarta, dan secara banyaknya jumlah penduduk juga kira-kira sama. Jikalau berbeda, mohon saya dimaafkan.  Berbekal dua kemiripan tadi, lantas saya menarik kesimpulan kenapa Jakarta tidak bisa seperti Shenzen. Kota besar dengan jumlah penduduk banyak namun terasa lebih tertib. Sudut kota lebih bersih dan transportasi lebih manusiawi. Kawan, janganlah ngambek ketika saya membandingkan ini. Justru saya merasa sedih ketika teringat Jakarta sewaktu berada di Shenzen. Harusnya Jakarta sudah bisa lebih baik dari Shenzen.




Ada pribahasa China yang masih saya ingat berbunyi “Menjadi kaya bukanlah sesuatu yang hina.” Sumpah, saya setuju. Asalkan kekayaan didapatkan dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain. Mungkin saya tidak kaya secara materi, tapi saya cukup berbangga dengan apa yang saya lakukan. Bisa melihat negara lain, tempat lain walaupun itu gratisan. Mungkin jika pribahasa itu bisa ditambahkan akan berbunyi “Mendapatkan gratisan juga bukanlah hal yang hina.” Biarlah, biarlah kawan, saya memang norak anaknya.







“Menjadi kaya bukanlah sesuatu yang hina” – Pribahasa China



Sejatinya orang mengunjungi Shenzen adalah untuk urusan berbelanja. Jumlah pusat perbelanjaan maupun toko di Shenzen sangat melimpah ruah. Mau membeli apa pun, ada di Shenzen. Tempat wisata yang ramai dikunjungi seperti Window of the world dan Splendid China Cultural Village. Tidak ada barang KW disini. Aseli semua. Barang itu akan menjadi KW kalau sudah sampai di Indonesia. Paling banyak yang berseloroh hayahhh, made in China. Padahal mampu beli pun tidak.




                                                                
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           The windows of the world are covered with rain
Where is the sunshine we once knew
Everybody knows when little children play
They need a sunny day to grow straight and tall
Let the sun shine through

The windows of the world are covered with rain
When will those black skies turn to blue
Everybody knows when boys grow into men
They start to wonder when their country will call
Let the sun shine through

-         Burt Bacharach –


                                                                    @arkilos                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

Jumat, 05 Juni 2015

Jauh Dari Hong Kong

JEANS belel kebanggaan yang saya pakai, jika dia bisa bercerita, pasti dia sudah berbangga dengan rekan-rekan sesama jeans lainnya. Pasalnya dia sudah sukses keluar masuk perbatasan antar negara dengan atau tanpa interogerasi perimigrasian dan tetek bengek  percukaian. Biarpun tampilannya lusuh dan sobek di sana-sini, jikalau jeans saya diibaratkan orang sakti, pasti dia sudah selevel dengan empu-empu pembuat keris macam Empu Gandring. Sakti mandraguna.


Area kedatangan Bandara Husein Sastranegara di Bandung yang luasnya hanya seperti kantor kelurahan dipaksa harus menampung isi penumpang pesawat yang baru tiba dari Kuala Lumpur. Terlihat dalam antrian ada jeans butut, mengantri mulai tepi landasan pacu hingga ke meja imigrasi. Demi mendapatkan sebuah stempel masuk ke tanah air. Saya selalu mengenakan jeans robek-robek itu setiap kali melintasi batas negeri. Rupanya petugas bea cukai lebih tertarik pada jeans saya daripada petugas imigrasi. Melipirlah saya untuk proses pemeriksaan cukai, saya taksir jeans butut tadi biang keladi hingga kenapa saya harus sampai diperiksa.

Petugas menggeledah tas saya sambil melontarkan beberapa pertanyaan seputar ini dan itu. Mereka khawatir saya seorang gembong narkotik yang baru selesai sowan dengan mafia di dataran Tiongkok. Saya hanya menjawab pertanyaan petugas bea cukai secara prosedural dan standar hingga mereka puas dan yakin tidak menemukan barang terlarang yang nekat ikut bepergian dengan saya. Kalau pun mereka harus menyita, paling jeans butut saya yang harus diangkut, karena tampilannya memang sudah tidak sedap di pandang mata.

Enak saja, jika jeans butut ini bisa bicara pasti dia sudah jumawa bahwa dia pernah berkeliling berbagai negara dibawa oleh sang majikan. Bahkan sering kali jeans butut itu ingin berkelakar bahwa sang majikannya pun pernah putus cinta perkara remeh temeh yaitu pacar sang majikan tidak suka dengan tampilannya yang mengundang durjana.

Jeans butut dan sang Majikan


Seminggu sebelum mendarat di Bandung, tentunya saya telah lepas landas terlebih dahulu dari tempat yang sama. Tujuan saya adalah Hong Kong. Apa lacur, tidak ada pesawat langsung dari Bandung menuju Hong Kong dan harga tiket sedang melambung. Hingga saya menemukan sepotong tiket hanya sampai Singapura seharga sembilan puluh ribu. Biarlah, paling tidak Hong Kong sudah lebih dekat dari Singapura daripada dari Bandung.

Saya pikir, setibanya di Singapura, saya akan mencari angkutan darat menuju Kuala Lumpur. Rupanya hari itu saya sedang beruntung, harga tiket pesawat jauh lebih murah daripada saya harus menumpang bus. Ada pesawat malam dari Johor Bahru yang akan bertolak ke Kuala Lumpur dengan harga 39 ringgit. Lebih murah dan cepat daripada harus menumpang bus.

Jeans butut rupanya kembali mengeluarkan kesaktiannya saat melintasi Woodlands check point di Singapura dan JB Sentral check point di Johor Bahru. Padahal waktu pertama kali saya melintasi perbatasan ini  harus digiring hingga ke ruang interogasi imigrasi Singapura. Petugas melakukan full body checking hingga menggeledah isi kantong dan dompet. Menanyakan maksut kunjungan hingga pertanyaan berunsur SARA yang tak elok rasanya kalau sampai saya ceritakan. Usut punya usut, saya baru sadar waktu itu jeans saya belum butut seperti sekarang.


Sukses masuk ke teritori Malaysia, jeans butut tadi kembali mengundang simpati sewaktu antri  menunggu bus. Ada mba-mba Malaysia yang baru pulang kerja –kantornya di Singapura, rumahnya di Johor Bahru- terhenyak melihat tampilan si jeans butut. Mba-mba Malaysia –sebut saja bernama Angel walau bukan nama sebenarnya-, menanyakan hendak pergi kemana kepada sang majikan jeans butut. Tujuan kami adalah Bandara Senai, dan mba-mba itu mungkin memang  jelmaan angel, ditawarilah kami tumpangan menuju bandara Senai. Searah ke rumahnya, jadi tidak perlu mencegat bus. Ah, semudah itu. Memang rejeki tidak salah alamat.

Mba-mba Malaysia tadi perlu tempat curhat rupanya. Sepanjang perjalanan ke bandara Senai, dia berkeluh kesah tentang perekonomian Malaysia yang mengharuskannya kerja pada siang hari di Singapura kemudian kembali ke Malaysia di kala petang, perceraian dengan suaminya yang meninggalkan dua orang anak, hingga keluh kesah bad hair day ditambah instruksi boss untuk melakukan inspeksi di sekitar Woodlands. Itulah mengapa dia bisa bertemu saya ketika berada di Woodlands. Sebagai penumpang gratisan, saya hanya bisa mendengarkan mba-mba itu sambil memberi sedikit nasehat. Kira-kira nasehat saya berbunyi: Mba, kalo bete kerja di Singapura, lah apa kabar gue yang kerja di Indonesia. Udah bagus lu orang kerja di Singapur. Kalo bosen, mending traveling dah. Lumayan itu buat refreshing. Suasana baru, pengalaman baru.

***

Tengah malam saya mendarat di Kuala Lumpur. Menunggu pesawat keesokan harinya menuju Hong Kong. Masih ada beberapa jam untuk melakukan ritual ngampar di Bandara. Petugas bandara makin hari makin galak, jika kawan perlu tempat untuk ngampar di bandara, pilihlah tempat yang agak nyempil, lumayan bisa recharge energi tanpa harus diganggu petugas patroli.

Tabiat early check in juga harus dibiasakan. Lebih baik menunggu daripada terburu-buru. Hari gini tiket pesawat memang murah, tetapi begitu tertinggal pesawat karena urusan antri imigrasi bisa mengacaukan siklus jalan-jalan.

Penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Hong Kong nyaris empat jam lamanya. Tidak ada agenda khusus ketika mengunjungi Hong Kong. Standar seperti turis-turis pada umumnya, tapi saya menyisipkan agenda lari di Hong Kong. Tidak perlu lama, cukup 10 kilometer minimal.

***

Tips ala-ala selama di Hong Kong:
1.       Hong Kong mirip sekali dengan Singapura. Saya tidak tahu yang mana yang meniru. Tapi saya taksir, Singapura lah yang meniru Hong Kong. Misalnya konsep Orchard Road, sepertinya meniru Nathan Road di Hong Kong sana. Biarlah, tidak ada hubungannya juga sama Jakarta.

Nathan Road yang termasyhur


2.       Cobalah Airport Express Train supaya tidak dikira katro. Mahal sedikit 90 HKD sekali jalan. Tapi jika mau irit, bisa beli tiket terusan seharga 220HKD dari Airport ke Kota. Setelah itu tiketnya bisa dipakai berkeliling Hong Kong selama 3 hari full, unlimited naik MTR.

Supaya tidak disangka udik


3.       Mungkin yang terbiasa ke Singapura, sudah tahu konsep MRT. Nah, kalau di Hong Kong disebutnya MTR. Bukan salah tulis, karena memang perusahaan itu kereta namanya MTR. Dieja Em Te Er.

Shopping Mall at Kowloon area


4.       Tiket terusan tadi hanya dipakai untuk naik MTR, tidak bisa untuk bus. Tapi kalau mau tambah uang atau top up, maka kartu itu jadi multifungsi seperti kartu Octopus. Bisa buat belanja, naik bus, naik tram, pergi ke panti pijat, beli barang, ngupil, sodakoh, dan aktivitas lainnya. Gimana caranya? Gih sana pergi ke Hong Kong.



5.       Dimana Top Up nya? Di semua convenience store bisa. Stasiun juga bisa. Minimal top up 50HKD. Terus kalau sudah selesai pake kartunya dan mau pulang ke tanah air beta, bisa dikembalikan kartunya dan uang sisa dikembalikan, plus dapet 50HKD ekstra karena balikin kartu.
6.       Kalau pake Octopus card, seru juga. Variant nya macam-macam. Ada yang berlaku dua hari, sehari, atau regular. Harganya pun beraneka. Sebagai contoh untuk kartu regular seharga 150HKD, sudah ada “pulsa” nya sekitar 100HKD dan 50HKD digunakan sebagai deposit. Kalau kartu dikembalikan hanya dapat 41HKD untuk pengembalian deposit, karena 9HKD digunakan untuk biaya administrasi.


Nanya mulu... Wa taa..


7.       Tgl 29 May ditetapkan sebagai hari ulang tahun Kamar Dagang nya Hong Kong. Jadi di tanggal tersebut, biasanya Tram dan Ferry dari Hongkong Island ke Kowloon Island gratis sepanjang hari, pulang pergi pula.



8.       Harus coba night sailing dengan ferry. Pengalamannya berbeda, sungguh luar biasa. Di Hong Kong, ferry untuk bolak-balik antar kedua pulau sudah digunakan lebih dari 150 tahun, sampai mereka membangun tunnel antar pulau yang bisa dilalui mobil dan MTR.

Old Ferry between Kowloon and Hong Kong


9.       Lama perjalanan dengan ferry hanya 10-15 menit saja. Tapi berlayar dengan ferry tua sungguh memukau. Apalagi bangku ferrynya yang terlihat jadul. Retro abis.
10.   Penginapan murah meriah banyak tersedia di Nathan Road. Patokannya stasiun MTR Tsim Tsa Shui. Banayak losmen murah di bangunan ruko Chunking Mansion, Mirador Mansion, dan Mansion-Mansion lainnya. Harga mulai dari 70HKD. Dekat kemana-mana, apalagi ke Avenue of Stars. Tinggal kepeleset, nyampe.

Penginapan murah meriah


11.   Avenue of Stars adalah tempat dimana memukau di siang hari dan gemerlap di malam hari. Setiap jam 8 malam ada atraksi joget laser dari cahaya-cahaya gedung nun di Hong Kong island. Tempat asyik buat bengong-bengong di sepanjang pinggiran laut.

Bengong time!


12.   Belanja bisa ke mall-mall yang jumlahnya naujubileh. Maaf kawan, saya bukan anak mall, jadi tidak begitu mahfum dengan kegiatan per-mall-an. Tapi yang tau sekitaran Kowloon ada Langham Palace. Kalau di Tsim Tsa Shui ada Cerutti 1881, dan mall-mall lainnya. Saya juga pernah mampir di City Gate, letaknya lumayan jauh di Lantau Island, patokannya turun di MTR Tung Chung.

Shopping till drop


13.   Belanja murah meriah, paling dekat di Kowloon adalah Ladies Market. Suasananya mirip lah dengan Petaling Street di Kuala Lumpur. Kualitas barang, yah ada harga ada rupa. Bervariasi.

Ladies Market


14.   Liburan keluarga, paling pas ke Disneyland. Kawan, tidak usahlah saya jelaskan tentang Disneyland. Cara menuju ke sana, tinggal naik MTR ke Sunny Bay lalu ganti MTR ke Disneyland. Ada yang spesial MTR dari Sunny Bay ke Disneyland, Jendela MTR nya motif kepala Mickey Mouse dan desain interior keretanya juga asyik.



15.   Adalagi tempat wisata di dekat Disneyland. Daerahnya bernama Tung Chung. Begitu keluar dari MTR Tung Chung, ada pusat perbelanjaan City Gate yang bersebrangan dengan stasiun cable car Ngong Ping. Di Ngong Ping ada patung Budha besar dan bisa menikmati desa di sekitarnya.



16.   Kawan, pernah tau tentang cerita Tenaga Kerja Wanita Indonesia yang bekerja di Hong Kong. Mereka rata-rata berprofesi sebagai Asisten Rumah Tangga (baca: Babu), nah konon di Victoria Park yang letaknya di Pulau Hongkong, merupakan markas PBB (Perserikatan Babu-Babu) asal Indonesia. Awalnya saya tidak percaya, tetapi begitu lari pagi ke arah Victoria Park, memang benar adanya. Mba-mba Indonesia banyak sekali berkumpul di Victoria Park. Ada yang bersantai atau menemani majikannya yang sudah lansia, sekedar mengajak jalan-jalan.  Saya pikir saya bakalan dapat sisa jatah sarapan majikan mereka, tapi berkenalan dengan mba-mba tenaga kerja itu lumayan mengobati rindu akan kampung halaman. Padahal hanya tiga hari juga di Hong Kong. Biarlah lebay.
17.   Walau masih sama-sama berada di Pulau Hong Kong, Victoria Peak sangat berbeda dengan Victoria Park. Victoria Peak merupakan puncak gunung yang dapat dicapai dengan dua metode transportasi. Bus dan Tram. Jika menggunakan tram, sensasinya lebih yahud dan lumayan bikin telinga berdengung karena perubahan elevasi yang cepat. Diatas Victoria Peak terdapat museum patung lilin Madame Tussaud dan restoran-restoran seperti Sky Terrace.

Amitamitjabangbaby and Amitabachan


18.   Tiket Tram ke Victoria Peak bisa dibayar menggunakan Octopus Card atau beli di loket seharga 28HKD untuk naik. Kalau turun cukup bayar 12HKD. Mau lebih murah bisa naik Bus nomor 15 dari stasiun MTR Central, ongkosnya hanya 10HKD sekali jalan.

Victoria Peak


19.   Untuk berleyeh-leyeh di sore hari, bisa coba berbagai taman kota yang ada di Hong Kong, misalnya Kowloon Park. Letaknya dekat saja dari Tsim Tsa Shui.
20.   Makanan di Hong Kong banyak mengandung babi. Untuk lebih amannya, bagi yang tidak mengkonsumsi babi, bisa coba makan di warung makan Pakistan atau India. Tapi perlu diingat untuk tanya dulu berapa harga makanannya. Karena di daftar menu mereka tidak mencantumkan harga. Mereka sering menggunakan sistem “getok harga”. Jadi tidak usah malu dan gengsi untuk tanya terlebih dahulu walau hanya membeli selembar roti canai. Jangan pedulikan mau dianggap apa pun, demi kemaslhatan dompet. Perjalanan masih panjang di Hong Kong. Setelah dari Hong Kong, saya akan mendarat di Cina Daratan, Shenzen.

@arkilos