Kamis, 27 November 2014

Sembalun Pelawangan Sembilan Penyesalan



SETENGAH sadar ternyata kaos kaki saya hanya terpasang sebelah ketika berlari tunggang langgang menuju Pos Pemantauan di sabana Sembalun. Sebelah kaos kaki masih tergenggam di tangan akibat terbirit-birit mengejar teman saya yang sudah berlari terlebih dahulu masuk ke dalam lebatnya hutan Bawak Nao. Misi kami menolong rekan pendaki lain yang mengeluh kram pada kakinya ketika turun dari Rinjani, disebabkan dia naik gunung menggunakan sendal jepit. Saya taksir kalau rekan pendaki itu menganggap dirinya seorang porter gunung yang sanggup menanggung beban pikulan menuju tanah setinggi 3726 meter di atas permukaan laut. Enak saja, naik gunung dikira perkara remeh-temeh. Baru tahu rasa dia.

Jauh, jauh sebelum kejadian heroik nan memukau hingga harus menggendong tas si pendaki kram itu, saya masih sibuk bekerja di depan PC, di kantor saya di Jakarta. Hingga saya memutuskan membeli tiket pesawat untuk keesokan harinya menuju Lombok. Boss saya geleng-geleng kepala, mungkin menganggap saya sakaw karena kurang menghirup hawa gunung. Padahal sudah dua bulan berturut-turut ini saya pasti pergi ke gunung setiap akhir pekan.

Saya bertemu dengan rekan-rekan pendaki Rinjani ketika nyaris telat boarding di Jakarta. Kami bersepakat membagi tenda di atas nanti. Entah bagaimana ceritanya, diangkutlah kami menggunakan minibus ke desa Sembalun Lawang. Kami ditampung di rumah mantan Kepala Desa. Bukan main, sangat berbeda dengan rumah Kepala Desa yang biasa saya bayangkan. Lumrahnya rumah Kepala Desa adalah mewah, megah, luas, sumringah. Tapi rumah mantan Kepala Desa yang kami inapi malam itu sungguh luar biasa sederhana. Ruang tamunya yang dulu berfungsi sebagai kantor Kepala Desa hanya dihiasi sebuah foto yang menempel di dinding tentang dua orang bersalaman. Laki-laki dan perempuan berjabat erat dimana tangan kiri mereka memegang secarik piagam yang ingin dipamerkan ke khalayak ramai. Sebuah pose standar ketika dua orang pejabat bersalaman.
Kawan, saya perkenalkan kedua orang yang ada di foto itu. Sang laki-laki adalah seorang Menteri Penerangan dan sang perempuan adalah seorang Kepala Desa. Foto itu diambil beberapa puluh tahun lalu dan yang saya lihat sekarang adalah seorang perempuan sederhana setengah baya yang sedang menjamu kami dengan keramah-tamahan luar biasa. Dia lah mantan Kepala Desa. Dia lah yang pernah memimpin desa Sembalun Lawang selama sembilan tahun. Ibu Kepala Desa itu bernama Rusmini.
Ibu Rusmini seperti sosok ibu rumah tangga kebanyakan. Semua urusan tetek bengek mulai dari memasak hingga mengurus suami dan anak-anak dilakukannya sepenuh jiwa. Tidak tampak sedikit pun bahwa dia pernah menjabat sebagai seorang Kepala Desa. Kepala Desa yang dipilih rakyat selama sembilan tahun. Kepala Desa yang konon hanya sebagai simbol tapi tidak berfungsi maksimal. Kepala Desa yang ada hanya sekedar milik desa. Bahwa sebuah desa tidak akan kurang suatu apa karena memiliki seorang sosok Kepala Desa. Tapi tunggu dulu kawan, tunggu ketika ibu Rusmini mulai bercerita.
Saya terkagum-kagum dengan sosok ibu Rusmini, dia mengaku telah sering kali menerima pejabat-pejabat ibukota yang gemar bertandang ke Sembalun Lawang demi menebar benih ikan di danau Segara Anakan. Menemani pejabat-pejabat ibukota yang bersorak sorai ikutan panen raya ketika hasil bawang putih melimpah ruah di Sembalun. Hingga mendirikan kantor Kepala Desa yang diresmikan langsung oleh Menteri Penerangan. Bukan main.


Seorang Rusmini juga tidak pandang bulu menampung siapa saja yang kemalaman dan membutuhkan bantuan. Termasuk menampung saya dan rekan pendaki lain yang akan merapat ke Semeru keesokan harinya. Ibu Rusmini berujar bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa, namun dengan menerima banyak tamu, maka rejeki akan datang sendiri. Dia beranggapan hartanya yang paling berharga adalah memiliki sahabat-sahabat nun dari antah berantah. Oleh ibu Rusmini, kami dianggap salah satunya.


Ibu Rusmini membekali kami sebutir kelapa yang sudah diparut untuk dibuat campuran sup kacang hijau ketika kami bermalam di Rinjani. Kami kemasi tas lalu melanjutkan perjalanan menuju Bawak Nao.

Sabana Sembalun membentang luas ke segala penjuru. Perbukitannya elok bak taman tempat bermain sapi-sapi gunung. Kami meniti jalan setapak di sabana Sembalun hingga mendekati hutan Bawak Nao. Pepohonan di Bawak Nao sedikit tersibak ketika kami mendekati dan berusaha masuk ke dalamnya. Jalur ini sebenarnya merupakan jalan pintas daripada kami harus melewati pos utama pendakian. Siang itu hutan Bawak Nao sedang kering. Daun berguguran ditanah menutupi jalan setapak menuju ke pos Pemantauan. Berhati-hati, kami takut tersesat ditipu rimbunnya Bawak Nao.

Pos pertama lebih dikenal oleh warga setempat sebagai Pos Pemantauan. Setelah berhasil keluar dari hutan Bawak Nao, ada dua jembatan tua besar yang kami sebrangi sebelum tiba di Pos Pemantauan. Tidak banyak pos yang dibangun di jalur pendakian Sembalun. Totalnya hanya ada tiga pos, yaitu Pos 1 Pemantauan, Pos 2 Tengengean, dan Pos 3 Pada Balong. Terlihat mudah dan praktis. Tapi sejatinya ujian baru dimulai setelah melewati Pos Pada Balong.

Jika kawan mendaki gunung Rinjani, harus menyiapkan persediaan air sebaik mungkin. Sebab air mudah didapat ketika berada di Pos Tengengean. Setelah itu silahkan menahan haus hingga sampai di Pelawangan Sembalun.

Lepas dari ketiga pos tadi, maka tersaji sebuah track  tanjakan yang sungguh sangat menguji nyali. Pendaki terdahulu menyebutnya sebagai tanjakan penyesalan. Entah berapa jumlah resminya itu tanjakan. Ada yang bilang sekitar sembilan kali tanjakan, tak heran jalur menuju Sembalun Pelawangan itu kerap disebut sebagai jalur Sembilan Penyesalan. Mendengar namanya saja saya sudah menyesal. Kepalang tanggung.


Jika gunung Semeru mempunyai satu tanjakan bernama Tanjakan Cinta untuk mengurai bukit dibaliknya, maka Rinjani ibarat kucing yang memiliki sembilan nyawa. Silahkan kalikan sembilan Tanjakan Cinta ditambah bumbu penyedap Tanjakan Setan dari gunung Gede, maka kalian akan menyesal telah berani-beraninya berhadapan dengan Rinjani.


Usaha kami untuk menggapai Pelawangan Sembalun berakhir di sore hari. Penyesalan bertubi-tubi tadi hilang laksana sulap, menguap entah kemana. Kami hanya diam duduk tepekur memandangi danau Segara Anakan yang mulai ditutupi awan. Kami tidak sadar bahwa kami sudah sampai di ketinggian 2600-an meter diatas permukaan laut.


Keindahan Sembalun Pelawangan semakin menjadi-jadi. Matahari berhasil menyibak awan seolah memberi aba-aba bahwa dirinya segera beringsut digantikan malam. Semburat kemerahan dari sebuah noktah berpendar mewarnai langit, mengoyak kabut hingga menyusup ke dalam danau. Lambat-lambat tapi pasti, cahaya di langit Sembalun Pelawangan meredup, berganti kelam bertabur jutaan bintang. Sungguh indah, indah tak terperi.


Kemah di Sembalun Pelawangan, -kalau boleh saya sarankan-, agar kawan mengambil posisi lebih ke arah barat daya. Disana akan lebih mudah dijumpai sumber mata air untuk persiapan menginap beberapa hari ke depan. Apa yang harus diwaspadai adalah serbuan monyet hutan, jangan sekali-kali membiarkan tenda kemah terbuka tanpa ada yang menjaga atau meletakkan barang berharga sembarangan. Pasukan bromocorah berbulu abu-abu itu tak kan segan menggasak benda tak bertuan untuk dibawa ke markasnya, di dasar jurang.

Idealnya untuk menuju ke puncak Rinjani dimulai sejak dini hari dari Pelawangan Sembalun. Namun apa daya, tim kami ada yang sakit sehingga serangan menuju puncak Rinjani harus ditunda hingga matahari benar-benar terbit.

Bukan masalah besar, sebab ketika di gunung kekompakan adalah yang utama. Kami mulai mendaki ke puncak waktu matahari sudah naik kira-kira sepenggalah. Punggungan Rinjani ibarat tulang belakang manusia. Kami mulai jelajahi dari tulang ekornya hingga melewati leher dan tiba di kepala. Punggungan Rinjani melengkung seolah ingin menoleh dengan angkuh.


Lebar punggungan itu tak seberapa, dimana kanan dan kirinya tersaji jurang menganga yang langsung menghantarkan kepada danau Segara Anakan. Tampak dari punggungan Rinjani ke arah Segara Anakan, ada sebuah gundukan menonjol yang mencuat menembus danau. Kawan, tahukah kalian siapa dia? Sini saya beri tahu, dia adalah Anak Rinjani. Aktif dan tubuhnya masih bergejolak laksana gejolak darah kawula muda.

Tiba di leher Rinjani, tabiat tanjakan mulai semakin liar. Batu berpasir membuat ayunan langkah semakin berat. Maju selangkah, mundur setengah. Tapi semangat ini pantang menyerah. Saya pasang strategi untuk tetap maju bertahan di leher Rinjani. Strategi ini saya sebut Ayunan Seratus Langkah. Dalam hati saya menghitung dan tidak boleh berhenti sesuai ayunan langkah hingga hitungan ke seratus. Rupanya strategi Ayunan Seratus Langkah itu hanya bertahan dalam tiga kali pengulangan. Medan yang saya daki tidak semudah kelihatannya. Saya ganti strategi.


Jika Ayunan Seratus Langkah terlalu berat, kali ini saya mencoba strategi Ayunan Limapuluh Langkah. Beharap Rinjani sedikit melunak, tapi ternyata sia-sia. Rinjani tak sudi di daki dengan mudah, lehernya menegang seolah ingin mengibaskan tengkuknya agar pendaki yang berada diatasnya segera turun. Benar saja, bahkan lebih parah dari sebelumnya, strategi Ayunan Limapuluh Langkah hanya bertahan sekali. Pada hitungan ke-limapuluh, ayunan kaki saya berhenti. Pasrah.


Menenggak air mineral botol, lumayan membuat semangat kembali terpercik. Saya pikirkan strategi lain agar bisa sampai di puncak Rinjani. Ternyata saya kehabisan ide. Tidak mau hilang akal, maka saya ambil mimpi-mimpi saya dan meletakkannya di atas puncak Rinjani. Tekad sudah bulat, harus saya gapai mimpi itu. Harus saya rebut kembali. Apa pun taruhannya.


Saya tengok ke belakang, beberapa teman juga sedang bersusah payah merajah Rinjani. Kali ini saya tidak lagi berstrategi menghitung langkah, tapi istighfar. Setiap kaki mengayun, keluarlah puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa. Ajaib, sisa pendakian itu terasa dekat saja. Diujung Rinjani nan terjal, mimpi-mimpi saya sudah menunggu untuk dipeluk kembali.
Tidak akan pernah saya lepas lagi mimpi itu. 3726 meter di atas permukaan laut saya dekap erat keinginan dan mimpi untuk menyambangi benua Australia. Doakan saya.



**Sedikit tips, jikalau berguna:

  1. Mengunjungi Taman Nasional Rinjani jangan di bulan Januari hingga April, karena pada bulan tersebut adalah masa pemulihan ekosistem dimana hewan-hewan sedang musim kawin. Kalau nanti mereka melihat pendaki dan jadi salah kawin bisa berabe.
  2. Ada dua jalur pendakian yang umum digunakan. Jalur Sembalun dan Jalur Senaru. Jalur Senaru, menurut hemat saya, lebih berat daripada Jalur Sembalu karena harus naik turun di Danau Segara Anakan. Tapi pemandangan di danaunya dapet banget dan bisa mancing.
  3. Ini rute Jalur Sembalun: Sembalun Lawang (1156mdpl) – Pos 1 Pemantauan (1300mdpl) – Pos 2 Tengengean (1500mdpl) – Pos 3 Pada Balong (1800mdpl) – Bukit Penyesalan (9x tanjakan) – Pelawangan Sembalun (2639mdpl) – Puncak Rinjani (3726mdpl).
  4. Ada juga rute Senaru: Desa Senaru (601mdpl) – Jebak Gawah – Pos 1 (915mdpl) – Pos Extra (1165mdpl) – Pos 2 (1500mdpl) – Pos 3 Mondokan Lokak (2000mdpl) – Cemara Lima (2503mdpl) – Pelawangan Senaru (2641mdpl) – Danau Segara Anakan (2000mdpl) – Pelawangan Sembalun (2639mdpl) – Puncak Rinjani (3726mdpl).
  5. Cara menuju Sembalun atau Senaru ada berbagai macam. Sewa mobil kalau perginya rame-rame. Jika hanya sedikit yang mendaki atau pergi sendirian, mainkan angkot dan ojek.
  6. Bersikap biasa aja kalau naik gunung, jangan nyampah, rendah hati, tidak sombong dan tetap rajin menabung.
  7.  Gak usah norak kalo ketemu bule. Minta tanda tangan atau foto bareng. Sumpah gak penting, yang ada juga mereka kudu minta tanda tangan kita. Secara kita yang punya negara.
  8. Gak usah ikut-ikut bule yang buka baju. Karena kulit mereka di desain untuk sunbath. Kalau masih ngeyel juga, mau ikutan buka-buka baju biar ke-tanning-tanningan, jangan salahkan saya kalau bukan tanning yang didapat. Tapi kulit ngelotok mirip kulit jambu bol yang terkelupas.
  9. Perlengkapan komplit jangan lupa dibawa. Kalau malas bawa, silahkan sewa porter dan guide. Masih menurut saya, jika naik gunung tapi barangnya dibawain, kayaknya kurang ho-oh.
  10. Lebih baik norak di gunung daripada norak di mall. *apa dah*